Tampilkan postingan dengan label abu bakar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abu bakar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2020

ASMA' BINTI ABU BAKAR - (116)


Asma’ binti Abu Bakar lahir di Makkah pada tahun 614 H/27 SH.  Di Makkah ini ia tumbuh sebagai seorang wanita yang terpandang, luhur jiwanya, cemerlang pikirannya, kuat kemampuannya, dan juga ikut berhijrah ke Madinah bersama kaum muslimin. Ia diantara wanita yang dini masuk Islam, dan karena perjuangannya membebaskan nabi Muammad dari kejaran kaum musyrikin Quraisy, maka ia mendapat julukan Dzatun Nithaqain

Asma’ binti Abu Bakar lebih tua dari saudaranya seayah, Aisyah Ummul Mukminin kira-kira sepuluh tahun, dan seayah seibu dengan Abdullah bin Abu Bakar. Ia mendapat gelar Dzatun Nithaqain. Sebab pada malam disaat Rasulullah keluar dan bersembunyi di gua bersama ayahnya, Abu Bakar, Asma mengambil roknya lalu membelahnya menjadi dua bagian. Yang satu untuk membungkus bekal Rasulullah, dan satunya lagi sebagai tali geriba (tempat minuman) Rasul. Dzatun- Nithaqain artinya orang yang memiliki dua buah rok. Pada saat menghadapi orang-orang yang menunaikan haji, ia berkata, “Bagaimana bisa kamu menjelek-jelekkan hamba Allah dengan julukan Dzatun-Nithaqoin? Benar, memang aku mempunyai sebuah rok sebagaimana yang layak dipakai oleh seorang wanita, dan satu rok lagi kuper gunakan untuk membungkus makanan Rasulullah.”

Asma’ masuk Islam saat di Makkah setelah tujuh belas orang sebelumnya sudah menyatakan keislamannya. Ia berbaiat kepada Rasulullah dan beriman kepada beliau dengan keimanan yang kokoh.

Asma’ dikawini Zubair bin Awwam, yang tidak mempunyai harta kekayaan, tidak pula budak selain seekor kuda. Ia harus memberi makan kudanya, mengurus segala keperluannya, memberinya air, menggiling tepung, dan membuat adonan. Karena sikap Zubair sangat keras kepadanya, maka ia mengadu kepada ayahnya. Lalu Abu Bakar menjawab, ‘Wahai putriku, bersabarlah! Bila seorang wanita mempunyai suami yang shaleh, lalu suaminya mati lebih dahulu dan ia tidak kawin dengan laki-laki lain, maka mereka akan dipertemukan di dalam surga.”

Dari perkawinan Asma’ dengan Zubair bin Awwam, lahirlah putra-putru mereka. Putra-putri mereka adalah  Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Mundzair bin Zubair, Ashim bin Zubair, Muhajir bin Zubair, Khadijah binti Zubair, Ummul Hasan binti Zubair, dan Aisyah binti Zubair. Putra-putri tersebut dididik oleh Asma’ dengan sebaik-baik didikan, dan memilihara mereka dengan seutama-utamanya, sehingga terbentuk menjadi manusia-manusia yang berani, maju dan sederhana.

Asma’ binti Abu Bakar selama hidupnya tidak hanya sebagai  ibu rumah tangga saja, akan tetapi ia juga sebagai seorang pejuang yang handal. Bersama suaminya, Zubair bin Awwam, ia turut serta bertempur melawan para pasukan Romawi. Asma’ menyeberangi daera peperangan Yarmuk, melawan musuhh-musuh Islam yang akhirnya pertempuran ini dimenangkan pihak muslim. Dan masih banyak peperangan yang diikutinya.  Asma’ juga dikenal sebagai sahabat dari kalangan wanita yang menerima hadits sebanyak lima puluh delapan. Ada yang mengatakan lima puluh enam. Sedang yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari dirinya ada empat hadits begitu pula Muslim.

Asma’ binti Abu Bakar  meninggal dunia setelah beberapa saat anaknya, Abdullah bin Zubair terbunuh di Makkah pada saat bertempur melawan pasukan Daulat Umayah pimpinan Al-Hajjaj bin Yusuf. Ia meninggal dunia pada usia lebih dari seratus tahun, pada bulan Jumadil Awal tahun 73 Hijriyah. Semoga Allah memberi rahmat dan kasih sayang-Nya serta maghfirah-Nya kepada Asma’. Amin 

UMMU RUMMAN - (115)

  

Ummu Rumman binti Amir al-Qinaniyah adalah istri sahabat Abu Bakar ash-Shidiq RA dan merupakan mertua rasulullah saw. Putri mereka, Aisyah RA adalah istri rasulullah saw terakhir. Ummu Rumman termasuk perawi hadis, dan dia adalah golongan pertama yang masuk Islam bersama suaminya. Golongan pertama berbaiat dan berhijrah. Banyak hadis yang diriwayatkan darinya oleh Masruk dan beberapa lagi oleh al-Bukhari.

Ummu Rumman adalah seorang wanita yang sabar, bahkan sangat sabar. Ketika terdengar fitnah yang menimpa putrinya, Aisyah RA Ummu Rumman sempat pingsan karena menahan kesabaran. Selalu dibesar-besarkan hati anaknya untuk tabah menerima cobaan Allah swt itu. Rasulullah saw amat menghormati mertuanya ini karena kesabaran dan ketabahan yang dimiliki.

Ummu Rumman meninggal pada tahun 6 H. Di saat pemakamannya, setelah beristighfar, Rasulullah Saw berkata:

“Ya…Allah! Engkau lebih tahun apa yang telah diderita Ummu Rumman dalam mengikuti jalan-Mu dan jalan Rasul-MU.”

Riwayat lain mengatakan bahwa rasulullah saw telah berkata:

“Barang siapa yang suka melihat wanita dari surga, maka dia boleh melihat Ummu Rumman.” 

AISYAH BINTI ABU BAKAR - (110)

 

 

Aisyah adalah salah seorang istri nabi Muhammad tercinta, dan tokoh wanita yang terkenal pada jamannya. Dia sangat cerdas, fasik dan setiap perkataan, juga sebagai wanita salihah yang patut diteladi oleh kaum wanita. Selain itu, dia juga sangat alim dalam ilmu pengetahuan agama dengan dihafalnya hadits-hadits nabi Muhammad. Dia adalah putri Abu Bakar dan Ummu Ruman yang dilahirkan pada tahhun ke sembilan sebelum hijriyah.

 

Perkawinan Aisyah  dengan Nabi Muhammad.

      Perkawinan nabi Muhammad SAW dengan  Aisyah binti Abu Bakar As-Shidiq, merupakan salah satu perkawinan  yang sangat istimewa yang pernah dialami beliau. Sebab perkawinan tersebut berdasarkan perintah Allah secara langsung, bukan kehendak beliau sendiri. Dikemudian hari, Aisyah adalah termasuk istri yang paling disayangi oleh beliau.

Menurut suatu  riwayat,  ketika datang Malaikat Jibril dengan membawa sehelai daun surga. pada daun itu tergambar wajah  Aisyah. Dalam riwayat lain, menyebutkan bahwa Jibril datang dengan membawa kain sutra. Sambil memperlihatkan kain tersebut pada nabi Muhammad SAW, dia berkata, "Muhammad, Allah  telah menikahkan  engkau dengan wanita ini (Aisyah binti Abu Bakar ra). Sesungguhnya  wanita  ini adalah istrimu di dunia dan di akhirat”.  Dan dalam riwayat lain disebutkan, ketika itu malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah, " Muhammad, carilah di dunia ini wanita yang bernama Aisyah, sebab Allah telah menikahkan engkau dengannya ".

Ketika itu nabi Muhammad belum mencurahkan perhatiannya terhadap mimpinya  itu, karena beliau sangat sibuk  dengan tugas-tugas kerasulannya yang lebih penting daripada mimpinya. Tetapi impian itu datang lagi, sehingga menyadarkan beliau,  bahwa ini adalah perintah Allah yang harus dilaksanakannya. Oleh karena  itu, beliau datang  ke rumah sahabatnya, Abu Bakar untuk menanyakan di  mana kira-kira ada wanita yang bernama Aisyah sebagaimana yang diwahyukan Allah. Abu Bakar menjelaskan, bahwa dia adalah putrinya yang masih  di bawah umur, belum pantas untuk beliau. Dan dia berjanji akan menyuruuh putrinya untuk menemui beliau. Jika  pantas, maka merupakan  kebahagiaan tersendiri buat Abu Bakar sekeluarga. Selanjutnya nabi menceritakan akan kedatangan malaikat Jibril yang berulangkali tersebut, sekaligus menikahkan beliau dengan wanita yang bernama Aisyah.

      Sepulang nabi, Abu Bakar mencari Aisyah yang sedang bermain-main dengan boneka. Abu Bakar menyuruh Aisyah ke tempat Rasulullah sambil membawa baki yang berisi kurma terbaik dengan ditutupi kain, dan berkata," Wahai Aisyah, jika kamu sudah sampai dihadapan nabi, katakan kepada beliau," Wahai Rasulullah, inilah yang ada pada  kami, jika pantas bagi tuan, semoga Allah memberkatinya ".

Lalu Aisyah yang baru berumur 9 tahun itu  pergi ke tempat Rasulullah tanpa menanyakan apa-apa kecuali menyampaikan amanat ayahnya.  Ketika itu beliau berkata,  "Ya, atas berkat Allah kita berteman ya Aisyah" sambil  memegang ujung kain Aisyah.  Aisyah menjadi marah melihat apa yang baru saja dilakukan beliau terhadap dirinya. Dan setelah itu dia terus pulang kerumahnya. Dia menceritakan semua kejadian kepada ayahnya.  Kata Abu Bakar " Jangan begitu Aisyah, jangan kamu punya anggapan  buruk  kepada Rasulullah, sebab Allah telah mengawinkan engkau dengan beliau dilangit yang ketujuh, dan aku akan kawinkan  engkau  di bumi ini ". Abu Bakar merasa lega dan teramat senang dengan jawaban nabi tersebut.

Sepulang Aisyah, nabi Muhammad mengutus Khaulah binti Hakim As- Silmiyah supaya melamar Aisyah untuk dirinya. Kemudian  Khaulah pergi ke  rumah  Abu Bakar melaksanakan perintah Rasulullah. Dia  ditemui istri  Abu Bakar, Ummu Ruman. Kepada Ummu Ruman, disampaikannya maksud kedatangannya, yaitu melamar Aisyah untuk diperistri Rasulullah saw. Tidak lama kemudian  datang Abu Bakar yang baru saja mengurus dagangannya. Kembali Khaulah menyampaikan lamaran Rasul tersebut kepada Abu Bakar. Abu Bakar tidak segera menjawab lamaran tersebut, lalu dia berkata," Tunggulah di sini terlebih  dahulu sampai saya datang ". Abu Bakar lantas pergi.

Khaulah heran jawaban Abu Bakar, tapi Ummu Ruman kemudian bercerita mengenai  diri Aisyah  yang pernah diminta oleh Muth'im bin 'Adiy untuk dijadikan  istri anaknya  yang bernama Jubair. Dikala itu Abu Bakar tidak keberatan. Untuk itu, Abu Bakar pergi kerumah Muth'im dan menanyakan masalah tersebut, sebab Abu Bakar adalah orang yang pantang menyalahi janji. Khaulah menjadi  maklum atas problem  Abu Bakar tersebut.

Sedang Muth'im dan istrinya adalah keluarga musyrikin yang telah menolak memeluk agama islam. Keduanya menerima kedatangan Abu  Bakar  dan  mendengar semua penuturannya. Lantas istri Muth'im berkata," Wahai Abu  Bakar, jika anak saya kami nikahkan dengan anak perempuanmu, bisa jadi nantinya anak saya akan Anda selewengkan dan Anda masukkan ke dalam agama Anda sekarang ini ". Fahamlah Abu Bakar bahwa keluarga Muth'im sudah tidak menghendaki lagi anak laki-lakinya menikah dengan anak perempuannya, Aisyah. Maka dengan perasaan lega, Abu Bakar meninggalkan rumah Muth'im. Dia bersyukur kehadirat Allah yang telah melepaskan dirinya dari ikatan  janji dengan keluarga Muth'im.

Setiba di  rumah, Abu Bakar langsung memberi  tahu Khaulah  yang sudah lamaah menunggunya, katanya,  " Baiklah, biarlah Rasulullah menemui kami ". Khaulah pun pamit dan menyampaikan pesan keluarga Abu Bakar tersebut kepada Rasulullah. Beliau segera datang dan membicarakan masalah tersebut  dan dilanjutkan pinangan nabi  untuk Aisyah binti  Abu Bakar As-Shidiq.  

Berselang beberapa  hari, nabi Muhammad  datang ke rumah  Abu Bakar  membicarakan  rencana  perkawinannya. Karena sibuknya kegiatan dakwah Islamiyah, maka  beliau  minta ditunda acara pernikahannya  sampai ada  tanda-tanda kemenangan  dan kemajuan dakwa Islamiyah. Dan perkawinan tersebut baru terlaksana setelah terjadinya hijrah ke Madinah.

 

Peresmian pernikahan antara Nabi Muhammad dengan Aisyah

Perkawinan Nabi Muhammad dengan Aisyah binti Abu Bakar adalah salah satu perkawinan yang sangat istimewa, sebab yang menikahkan secara langsung adalah Allah swt. dan Aisyah masih berumur kurang 9 tahun. Karena nabi masih sibuk dengan dakwah Islamiyah dan Aisyah masih mudah usianya, maka beliau menunda peresmian pernikahannya, sedang Aisyah tetap tinggal bersama kedua orang tuanya. Setelah  5-6 tahun, beliau meresmikannya di Madinah.

Sebagaimana diriwayatkan, suatu hari pada tahun ke 3 H, Abu Bakar sowan kepada nabi Muhammad dengan tujuan mengingatkan kembali rencana semula ketika masih berada di Makkah, yaitu akan menikahi putrinya secara Islami dan memboyong Aisyah sebagai salah satu dari istrinya. Dari itulah beliau baru teringat akan kesepakatan tersebut, karena sibuknya beliau berdakwah. Maka tidak lama kemudian, pernikahan tersebut dilangsungkan secara sederhana dan kekeluargaan.

Pernikahan antara nabi Muhammad dengan Aisyah bukanlah semata-mata karena hawa nafsu, sebagaimana yang banyak dituduhkan orang-orang yang ingin menjatuhkan derajat kenabian beliau, tapi memang kehendak dari Allah SWT, yang pada tujuan akhiirnya yaitu untuk memperkuat barisan Islam, sebab Abu bakar adalah sahabat utama beliau dan merupakan benteng kekuatan Islam. Inilah salah satu cara Allah di dalam memperkuat benteng Islam dengan cara mushaharah.

 

Kejadian  Kabar Bohong

Ketabahan  Aisyah sebagai wanita shalihah ditunjukkannya pada saat ia harus menerima fitnahan yang dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh munafiqin Madinah terkemuka. Bahwa ia diisukan berbuat serong dengan seorang sahabat yang bernama Sofwan bin  Muatthal.

Kejadian tersebut bermula saat pasukan Islam berhenti di suatu tempat pada malam hari untuk istirahat sebentar, melepaskan lelah. Begitu juga dengan Aisyah, ia turun dari tandunya dan menjauh dari rombongan untuk membuang hajat. Seetelah itu, ia kembali ke rombongan,  namun tiba-tiba dia harus kembali lagi ke tempat semula untuk mencari barang  perhiasan yang terjatuh. Setelah lama dicari, akhirnya perhiasan tersebut dapat ditemukannya meski membutuhkan waktu yang cukup lama. Kemudian kembali ke tempat rombongan beristirahat, dan setelah sampai, ternyata tidak ditemukan seorangpun di sana, sebab mereka sudah berangkat. Karena lelah dan ngantuk, akhirnya ia tertidur di jalanan. Baru bangun ketika mendengar suara langkah kaki onta mendekat disertai seorang sahabat yaitu Sufyan bin Muatthal.

Sufyan bin Muatthal adalah salah seorang sahabat yang diberi tugas oleh nabi Muhammad  agar berjalan di belakang pasukan untuk mencari barang-barang yang tertinggal atau terjatuh dari kendaraan pasukan. Begitu juga ketika Sufyan berjalan, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang sedang tertidur, dan ternyata ia adalah Aisyah, istri Rasulullah. Oleh karena itu,  tanpa sedikitpun bicara, dia merundukkan ontanya dan tidak lama kemudian Aisyah pun naik, lalu Sufyan berangkat dengan menuntun onta untuk bisa menyusul dan berkumpul kembali dengan induk pasukan.

Kembalinya Aisyah ke Induk pasukan dengan diantar oleh Sufyan bin Muatthol tersebut menjadikan Abdullah bin Ubay merasa punya bahan untuk berusaha menjatuhkan nabi Muhammad, yaitu dengan mengisukan adanya perselingkuhan antara Aisyah dengan Sofyan bin Muatthol.

Bagi Aisyah, peristiwa tertinggalnya dari rombongan induk pasukan ternyata menjadi isu yang ramai. Akan tetapi, ia sendiri tidak mengetahuinya kalau diperbincangkan penduduk Madinah, sebab sepulangnya dari perang Ghotofan, ia langsung jatuh sakit sampai beberapa hari. Begitu juga ayah-ibunya tidak memberitahukannya, kalau-kalau akan semakin parah sakitnya jika diberitahu.

Nabi Muhammad yang biasa bertemu dengan Aisyah, sejak sakitnya beliau tidak pernah menemuinya, kalau toh menemui, tidak langsung bertemu. Dan setelah beberapa saat, Aisyah mengetahui tentang dirinya yang menjadi perbincangan semua penduduk Madinah. Atas peristiwa tersebut, Aisyah membantah semua tuduhan, baik kepada Ayah-ibu, keluarga dan juga nabi Muhammad. Tapi itu semua sia-sia, terutama nabi Muhammad sangt gelisah jika peristiwa seperti yang tersebar luas benar-benar terjadi.  Oleh karena itu,beliau selalu berdo’a kepada Allah, agar diberi petunjuk atas kasus istrinya tersebut.

Setelah beberapa saat, kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya kepada nabi Muhammad surat An-Nur : 11-12. yang memberi khabar akan kebersihan dan kesucian Aisyah. Oleh karena itu, beliau tampak berseri-seri, tersenyum dan memberitahukannya kepada Aisyah berita gembira kebebasan dirinya dari tuduhan-tuduhan. Lalu beliau pergi ke Masjid Nabawi dan mengumumkan turunnya surat An-Nur tersebut, serta mengancam kepada siapa saja yang masih menyebarkan kabar bohong, maka akan menerima cambukan sebanyak 80 kali.  Meskipun, beliau sudah mengancam, akan tetapi masih ada saja yang tetap menyebarkan kabar bohong, dan akhirnya mereka menerima hukuman 80 kali cambukan. Mereka itu adalah Hamnah binti Jahsy, Musthah ibnu Tsabit dan Hisan bin Tsabit.

Demikian itu adalah jarum-jarum tajam kaum munafiq. Mereka menyusup di tengah-tengah umat Islam dengan sikap menampakkan kecintaan sedang dalamnya ingin menghancurkan Islam dimana mereka berada. Mereka selalu mengintai fitnah dan keonaran dan sewaktu kesempatan memungkinkan untuk menjatuhkannya.

Sepeninggal Rasulllah, Aisyah yang merupakan Ummul Mukminin adalah salah seorang yang banyak di datangi oleh para sahabat dan Tabiin. Kedatangan mereka tiada lain kecuali ingin mendengar hadits-hadits dari Aisyah. Selain itu, Aisyah juga banyak memberikan masukan dan saran atas permasalahan-permasalahan yang dialami oleh mereka.

Pada saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, dan diangkatnya Ali bin Abi Thalib menjadi penggantinya,  Aisyah waktu itu berada di Makkah. Dia sangat marah atas dua kejadian  tersebut, sehingga timbullah perselisian antara dirinya dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang kemudian terjadi perang antara keduanya. Perang tersebut dalam sejarah Islam dikenal dengan perang JAMAL (perang onta).

Setelah cukup lama hidup, Aisyah sakit keras yang akhirnya meningal dunia dalam usia 66 tahun, pada tanggal 17 Ramadhan tahun 58 Hijriyah di Madinah. Dia berwasiat agar dimakamkan di pemakaman Baqi’ pada malam hari. Banyak sahabat-sahabat tua, seperti Abu Huraira yang menghadiri pemakamannya. Orang yang turun ke liang lahar adalah Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Qasim dan Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepadanya.  

Minggu, 14 Mei 2017

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ 5 : Kekeramatannya - [19]






1). Makanan Menjadi Banyak.
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakar. Pada suatu hari, Abu Bakar kedatangan tiga orang tamu, sementara dia sendiri tidak berada di rumah, karena kebetulan sedang makan malam di kediaman Rasulullah saw. Baru tengah malamnya, Abu Bakar kembali ke rumah. Sesampai di rumah, isterinya berkata, “Lama benar engkau pergi, sedangkan tamu kita dibiarkan seperti tawanan”.
“Tidakkah kamu sudah menyuguhkan makanan buat mereka?”, tanya Abu Bakar.
“Sudah kami suguhi, namun mereka tidak memakannya sampai kamu datang”, jawab istrinya.
“Demi Allah, sedikit pun saya tidak akan makan”, kata Abu Bakar. Dia baru saja makan malam bersama Rasulullah saw. Lalu dia menemui tamunya dan mempersilahkan mereka, “Silahkan kalian makan”.
Mereka bertiga makan apa saja yang disuguhkan tuan rumah hingga mereka kenyang. Namun mereka merasa aneh, setelah mereka perhatikan, ternyata jumlah makanan yang disuguhkan tidak berkurang, bahkan semakin bertambah banyak.
“Demi Allah. Setiap sesuap yang kami makan, ia semakin menjadi banyak. Kami semua sudah kenyang, tapi sisanya justru lebih banyak dari sebelumnya”, kata salah seorang diantara mereka kepada Abu Bakar.
Abu Bakar pun jadi ikut heran, lalu mencoba mengamati makanan tersebut, ternyata benar jumlahnya jauh lebih banyak dari sewaktu disuguhkan. Dia kemudian masuk kedalam menemui isterinya, “Wahai isteriku, apa-apaan ini, apakah kamu memasak makanan sebanyak ini?”, protesnya.
“Sungguh, aku tidak memasaknya sebanyak itu. Aneh, makanan ini kini menjadi tiga kali lipat dari yang aku masak tadi”, jawab isterinya ikut terheran-heran.
Abu Bakar menjadi penasaran, dia pun ikut memakannya, dan berkata, “Paling-paling ini sekadar ulah setan”. Selanjutnya makanan itu dia bawa ke kediaman Rasulullah saw. Tapi pada pagi harinya, makanan tersebut masih ada.
Abdurrahman bin Abu Bakar melanjutkan ceritanya, “Kebetulan hari itu kami mempunyai janji dengan sekelompok kaum di sekitar kami. Namun setelah selesai, mereka bubar dan berpencar-pencar menjadi duabelas kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari seorang pemimpin dan pengikut yang cukup banyak jumlahnya. Jumlah keseluruhan sampai tidak dapat dihitung. Kemudian Rasulullah saw menyuruh kami memanggil mereka untuk diajak makan bersama. Tak seorang pun diantara mereka yang ketinggalan. Semuanya ikut memakan makanan tersebut sampai kenyang”.


2). Mengetahui Jenis Kelamin Janin dalam Kandungan.
Urwah bin Zubair meriwayatkan dari ‘Aisyah binti Abu Bakar. Abu Bakar memperoleh 20 gantang kurma dari hasil perkebunannya. Menjelang wafat, Abu Bakar berkata kepada ‘Aisyah ra, “Wahai anakku, tak seorang pun yang sudah berkecukupan yang aku senangi melebihi kamu. Dan tak seorang fakir (serba kekurangan) yang lebih mulia sepeninggalku, selain kamu. Sewaktu aku dahulu memberikan hasil perkebunan sebanyak 20 gantang kepadamu, kamu tidak menerimanya. Sekrang kurma itu akan menjadi harta warisan. Maka itu, bagikan kurma tersebut kepada kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu, sesuai ketentuan Kitabullah”.
‘Aisyah ra terkejutmendengar kata “kedua saudara perempuanmu”, lalu bertanya, “Ayah! Demi Allah, jika demikian, sebaiknya saya tidak diberi bagian, biarkan harta itu untuk saudara-saudaraku. Tapi, saudara perempuanku hanya Asma’, lalu yang satunya siapa?”.
“Janin yang sedang dikandung ibumu, aku lihat ia seorang perempuan”, jawab Abu Bakar.
Apa yang dikatakan Abu Bakar ternyata benar. Setelah lahir, bayi itu benar-benar seorang perempuan.
Menurut imam at-Taj as-Subki, cerita di atas menjelaskan dua kekeramatan Abu Bakar. Pertama, dia merasa akan wafat di saat sakitnya, karena ada kata “warisan” disebut dalam dialog antara dia dan ‘Aisyah. Kedua, dia bisa melihat jenis kelamin janin yang sedang dikandung isterinya.


3). Pintu Makam Terbuka Disertai Suara Tanpa Rupa.
Dalam menafsirkan surat al-Kahfi, imam Fakhrurrazi menceritakan seputar kekeramatan yang dimiliki beberapa sahabat Nabi Muhammad saw, termasuk Abu Bakar. Diantara kekeramatan Abu Bakar adalah, sewaktu  jenazahnya diusung  sampai ke depan makam Rasulullah saw, salah seorang yang mengusungnya berkata, “Assalamu ’alaika, Ya Rasulullah. Inilah Abu Bakar sudah berada di luar pintu makammu”.
Beberapa saat kemudian, pintu makam itu tiba-tiba membuka sendiri, kemudian dari arah dalam makam beliau saw, terdengar suara hatif, suara tanpa terlihat orang yang mengucapkannya, “Masukkanlah orang yang dicintai, kepada orang yang mencintainya”.

  * * * * * *

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ 4 : Kezuhudan, Kedermawanan & Kewara'annya - [18]





Keridha-an Abu Bakar terhadap penyakit yang dideritanya menjelang wafatnya. Salah seorang putranya menawarkan diri untuk mencari seorang tabib agar menyembuhkan penyakitnya. “Wahai ayahku! Apa perlu aku carikan seorang tabib untuk mengobatimu?”, kata putranya.
Justru tabib itulah yang membuatku sakit. Tabib itu telah berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya Aku Maha Bebas Berbuat sesuai dengan apa yang Aku Kehendaki”, jawab Abu Bakar.
Ternyata yang dimaksud “tabib”  oleh Abu Bakar adalah Allah swt. Karena Dia-lah yang pada hakekatnya menjadikan seseorang sakit dan sembuh. Sementara obat penyembuh dan penyakit yang diderita seseorang adalah sekedar sebagai sarana Allah swt membuat seseorang sakit atau sehat. Sikap Abu Bakar yang demikian ini bukan berarti bahwa dia pasrah total dan tidak mau berusaha mencari obat. Akan tetapi dia memandang dan merasakan bahwa sakitnya adalah sebagai suatu anugerah yang harus diterima dengan perasaan ridha dan lapang dada.

* * * * * *

Kedermawanan. Abu Bakar adalah seorang pedagang yang kaya raya dan sempat memiliki tabungan 40.000 dirham sebelum datangnya Islam. Setelah masuk Islam, tidak sedikit harta kekayaannya yang dikorbankan demi keluhuran Islam dan kaum muslimin. Diantaranya dipergunakan untuk membeli dan memerdekakan budak-budak muslim yang sedang disiksa tuannya. Diantara mereka yang dimerdekakan itu adalah Bilal bin Rabah al-Habsyi, seorang budak milik Umayyah bin Khalaf; Amir bin Fuhairah; Zunairah; Ummun Unais; Lathifah; Labibah, budak milik Umar bin Khatthab sebelum dia masuk Islam; dan masih banyak lagi.
Dengan kekayaan itu pula Abu Bakar membantu fakir miskin di kalangan kaum muslimin, membantu penyediaan perbekalan  pasukan perang, menjamu para tamu, amal sosial lainnya dan biaya perjuangan Rasulullah saw. Semuanya ini dia lakukan secara ikhlas, semata-mata mengharap ridha Allah swt.
Kezuhudan dan kedermawanannya tampak sekali sewaktu menghadapi perang Tabuk pada tahun 9 hijriyah. Saat itu sedang musim paceklik dan kaum muslimin sedang dilanda krisis ekonomi, sementara tentara Romawi Bizantium yang akan dihadapi kaum muslimin siap tempur dan sangat kuat dengan persenjataan lengkap. Selain itu, perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh, yakni daerah Tabuk di Syam. Ditambah lagi kondisi cuaca yang cukup panas, buah-buahan sudah masak dan siap dipanen, sehingga kaum muslimin lebih senang menunggui sawah ladang mereka daripada harus berangkat berperang.
Perang Tabuk jauh hari sudah diumumkan Rasulullah saw, agar kaum muslimin mempersiapkan perbekalannya sebaik mungkin dan bagi sahabat yang mampu agar  berkenan menyumbangkan sebagian hartanya untuk biaya pertempuran dan membantu tentara yang tidak memiliki persiapan bekal. Hal sangat berbeda dengan perang-perang selainnya yang  biasanya beliau saw umumkan secara mendadak.
Menyambut seruan  beliau saw tersebut, para sahabat yang kaya terketuk hatinya untuk menyumbangkan dananya. Diantaranya adalah Usman bin Affan yang paling banyak jumlah sumbangannya, yang meliputi uang 10.000 dinar emas, 300 ekor onta lengkap dengan pelananya dan 50 ekor kuda. Umar bin Khatthab menyumbangkan separuh dari seluruh hartanya. Abdurrahman bin Auf menyumbangkan 100 auqiyah emas. Demikian pula Abbas bin Abdul Muthalib dan Thalkhah.
Tidak ketinggalan pula Abu Bakar yang menyumbangkan seluruh harta kekayaannya sebanyak 4.000 dirham, tanpa tersisa sedikut pun harta di rumahnya. Tanya Rasulullah saw, “Masih adakah harta yang kamu sisakan untuk keluargamu?”. Jawab Abu Bakar, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya buat keluargaku”.
Menyaksikan kedermawanan dan kezuhudan Abu Bakar tersebut, Umar bin Khatthab berkomentar, “Aku tidak bisa mengalahkan kedermawanan Abu Bakar. Seluruh harta kekayaannya dia sumbangkan, sementara yang disisakan buat keluarganya adalah Allah swt dan Rasulullah saw, bukan wujud harta benda. Sedangkan aku masih menyisakan separuh hartaku buat keluargaku”.

* * * * * 

Abu Bakar dan Tabungan isterinya.
Pada suatu hari isteri Abu Bakar berkata, “Aku ingin membeli sedikit manisan”.
Aku tidak memiliki cukup uang untuk membelinya!”, kata Abu Bakar.
Kalau engkau mengijinkan, aku mencoba menghemat uang belanjaan sehari-hari, sampai terkumpul untuk cukup membeli masakan itu”, usul isterinya.
Abu Bakar menyetujui usul isterinya. Sejak waktu itu, isteri Abu Bakar mengumpulkan sisa belanjaan sedikit demi sedikit, sampai terkumpul sejumlah uang sesuai dengan yang diinginkan. Kemudian uang itu diserahkan kepada Abu Bakar agar dibelikan bahan makanan tersebut. Namun, apa kata Abu Bakar?.
Berdasarkan pengalaman ini, uang tunjangan dari Baitulmal berarti melebihi keperluan kita. Kelebihan ini harus aku kembalikan lagi Baitulmal”, kata Abu Bakar kepada isterinya.
Sejak peristiwa itu, Abu Bakar meminta kepada petugas di Baitulmal agar mengurangi tunjangan untuk keluarganya.
Ibnu Sirin meriwayatkan. Ketika menjelang wafatnya, Abu Bakar memanggil salah satu putrinya, ‘Aisyah ra, untuk mengungkapkan wasiatnya, “Aku sebenarnya tidak suka menerima tunjangan dari Baitulmal, tetapi Umar mendesakku untuk menerimanya agar aku tidak diganggu oleh kegiatan perdaganganku didalam mengurus kaum muslimin. Aku tidak memiliki pilihan lain, selain menerimanya dengan terpaksa. Untuk itu, serahkan kebunku di sana sebagai penggantiku membayar apa saja yang pernah aku terima dari Baitulmal”.
Setelah Abu Bakar wafat, ‘Aisyah segera melaksankan wasiat ayahnya. Kebun tersebut lalu diserahkan kepada Umar bin Khatthab selaku khalifah kedua pengganti ayahnya. Anas bin Malik ra meriwayatkan, ketika wafat, Abu Bakar tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun, baik dirham maupun dinar. Dia hanya meninggalkan satu ekor onta betina untuk diperah air susunya, sebuah mangkok dan seorang pelayan. Menurut sahabat yang lain, Abu Bakar hanya meninggalkan sehelai kain untuk hamparan. Dan itu pun semuanya sudah diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khatthab.
Semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada Abu Bakar. Dia telah menunjukkan jalan yang sukar untuk diikuti oleh para penggantinya. Dia tidak memberi peluang kepada siapa pun untuk menandingi ketinggian derajatnya”, komentar Umar bin Khatthab.

* * * * *

Kewira’ian Abu Bakar. Abu Bakar sangat berhati-hati dalam soal makanan, minuman dan harta yang diperolehnya. Jangan sampai ada sedikit pun makanan, minuman dan harta yang masuk kedalam perutnya. Baik zatnya yang memang haram, maupun cara mendapatkannya. Bahkan terhadap barang yang syubhat pun, Abu Bakar berusaha menjauhinya, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari berikut ini.
Abu Bakar memiliki seorang hamba sahaya yang selalu menyerahkan sebagian dari pendapatan hariannya kepadanya. Pada suatu hari, hamba itu membawa sedikit makanan kepadanya, lalu dicicipi satu suap.
Wahai tuanku! Biasanya tuan selalu bertanya kepadaku dari manakah sumber makanan yang aku bawakan setiap hari kepada tuan. Namun kali ini tuan tidak menanyakannya”, kata hamba.
Tadi, aku tidak sempat bertanya kepadamu karena aku sangat lapar. Sekarang jelaskan, dari mana makanan itu kamu dapatkan?”, kata Abu Bakar.
Pada jaman jahiliyah, aku pernah menjadi dukun. Aku lewat perkampungan suatu kaum dan di sana aku membaca mantera kepada mereka. Mereka berjanji akan memberikan sesuatu kepadaku sebagai balas jasa terhadap apa yang pernah aku lakukan itu. Pada hari ini, aku lewati perkampungan mereka. Kebetulan mereka sedang melangsungkan pernikahan. Kemudian mereka memberikan makanan ini kepadaku”, kata hamba Abu Bakar.
Mendengar penjelasannya itu, Abu Bakar langsung berteriak, “Hampir saja kamu menghancurkan aku”.
Selanjutnya Abu Bakar berusaha memuntahkan sesuap makanan yang sudah ditelannya dengan cara melogok tenggorokannya. Namun, makanan yang sudah masuk ke perutnya tersebut sulit dimuntahkannya. Seseorang yang menyaksikan peristiwa tersebut menyarankannya supaya meminum air sebanyak-banyaknya, agar makanan tersebut mudah dimuntahkan. Segeralah dia melakukan saran orang itu, dan akhirnya ia berhasil memuntahkan kembali makanan tersebut.
Semoga Allah swt melimpahkan rahmat-Nya kepadamu yang telah bersusah payah memuntahkan isi perutmu, hanya karena sesuap makanan yang engkau anggap haram”, kata seseorang tersebut.
Meskipun aku harus kehilangan nyawa demi memuntahkan makanan itu, aku tetap memaksakan diri untuk memuntahkannya dari perutku. Karena aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, bahwa badan yang tumbuh dari makanan haram, maka api neraka pantas membakarnya. Oleh karena itu, aku selalu khawatir jika badanku ini tumbuh dari makanan haram”, tegas Abu Bakar.
Sebenarnya dalam peristiwa tersebut, harta dan makanan dari hamba sahayanya itu tidak begitu penting bagi Abu Bakar. Kalaupun harta atau makanan itu benar-benar bersumber dari usaha yang tidak halal, Abu Bakar sebenarnya tidak menanggung beban dosa, akan tetapi hambanya dan penduduk kampung tersebut yang menanggung beban dosanya. Namun, sikap hati-hati dan wara’ atau wirai-nya itulah yang menyebabkannya tidak merasa tenang dengan harta atau makanan yang diduga mengandung unsur syubhat, apalagi yang jelas-jelas haram.

* * * * *